Healthy Lifestyle · Parenthink

Perlukah vaksin tambahan ? Vaksin IPD/ Pneumokokus (PCV) dan Rotavirus

Feel Happy..

Setelah masa liburan yang panjang dari masa puasa hingga lebaran akhirnya bisa aktif menulis lagi :D.

Beberapa bulan yang lalu tepatnya saat Kimika menginjak usia 2 bulan saya sempat menjadi mama baru yang galau. Galau karena saat melihat jadwal imunisasi anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) saat usia 2 bulan itu banyak banget. Ada polio, DPT (difteri, pertusis, tetanus), Hib, PCV, Rotavirus total ada 5 jenis vaksin. Untuk Polio dan DPT ini merupakan jenis vaksin dasar yang diwajibkan oleh pemerintah selain campak, BCG, hepatitis B. Ada 2 jenis vaksin tambahan yang belum termasuk vaksin yang diwajibkan, namun direkomendasikan oleh IDAI untuk diberikan yakni PCV dan rotavirus.

Karena saya orang awam yang belum begitu faham mengenai vaksin PCV dan rotavirus ini akhirnya saya googling buat cari tahu manfaat dari kedua vaksin ini. Β Kemudian saya menemukan diskusi grup yang membicarakan tentang vaksin PCV di grup Facebook Gesamun, saya kutip sedikit tanggapan dari Dr Dirga Sakti Rambe, SPA.

Dr Dirga Sakti Rambe, SPA menyampaikan pendapat mengenai perlu tidaknya vaksinasi PCV, β€œSaya mengerti sekali, bahwa sampai saat ini pun, masih banyak dokter yg berpendapat vaksinasi PCV tidak perlu. Benarkah demikian? PCV (Pneumococcal Conjugate Vaccine) adalah nama vaksin utk mencegah IPD (Invasive Pneumococcal Disease), yg spektrum klinisnya cukup luas, meliputi antara lain pneumonia, meningitis dan sepsis. Saat ini tersedia beberapa pilihan vaksin, ada PCV 7, PCV 13 dan PPS 23 (ini vaksin polisakarida, bukan konjugat). Angka tersebut menunjukkan jumlah serotipe bakteri Pneumokokus yg terkandung dalam vaksin tersebut. Perlu diketahui, penetapan jenis serotipe tersebut berdasarkan penelitian epidemiologis di banyak negara, termasuk negara maju dan berkembang. Negara berkembang diwakili Asia dan Afrika. Tidak mungkin melakukan penelitian di seluruh negara di dunia, sehingga cukup dipilih beberapa negara yg representatif. Penelitian ini dilakukan secara berkala untuk memantau perkembangan serotipe yg beredar, termasuk utk mengetahui apakah ada serotypes replacement. Jadi tidak benar kalau penyakit IPD hanya ada di negara 4 musim. Penelitian terakhir justru menunjukkan angka kematian yg disebabkan IPD terbanyak justru terbanyak terjadi di negara-negara berkembang (miskin?) Lalu bagaimana dengan Indonesia? Ada beberapa penelitian mengenai Pneumokokus di Indonesia, antara lain di Bali dan Lombok. Serotipe terbanyak yg ditemukan di Indonesia: 6, 23, 15, 33 dan 12. Pada PCV 7, sekitar 65% serotipe ini sudah ter-cover. Pada PCV 13, hampir 80%. Dengan demikian: TIDAK BENAR bahwa PCV tidak bermanfaat untuk Indonesia. Mengenai harga, memang mahal karena kita masih impor dan saat ini hanya ada satu perusahaan besar yg ‘menguasai’ pasar di seluruh dunia untuk vaksin PCV ini (Merek Pre***r). Terkait perlu tidaknya vaksin PCV, saya tetap merekomendasikan utk diberikan. Memang benar, bahwa data nasional mengenai serotipe yg bersirkulasi belum ada (kalau tidak salah penelitian sedang berjalan). Dahulu ada penelitian awal di Lombok, yg menyatakan bahwa serotipe yg beredar di Indonesia adalah 6, 23, 15, 33 dan 12. Dengan PCV-7 sudah meng-cover 65%. Paling ideal rekomendasi memang dibuat setelah ada data nasional. Namun sebaiknya kita lihat juga data dari negara2 tetangga, khusunya di Asia Tenggara. Biasanya terdapat corak epdemiologis yg sama, sehingga saya ttp menganjurkan ini diberikan. Mengapa mahal? Ini bukan karena kapitalisme. Jgn selalu berburuk sangka dgn industri. Krn teknologi utk membuat PCV ini susah! Sampai saat ini hanya ada 3 produsen di dunia yg baru berhasil membuat vaksin ini. Indonesia (Biofarma) belum sanggup membuatnya dgn teknologi yg dimiliki sekarang, karena membuat vaksin itu perkara yg sangat sulit dan tidak melulu soal modal. Ada aspek kemampuan teknologi & sumber daya manusia yg secara jujur saya katakan kita masih tertinggal jauh dari perusahaan2 besar di Amerika/eropa. Ketiga perusahaan tsb memiliki mekanisme tiered pricing sehingga utk negara2 berkembang harganya lebih murah drpd utk negara2 maju. Juga ada bantuan dr lembaga2 donor internasional. Mengenai vaksin PCV, ada 3 merek di pasaran. Rekomendasi saya: pilihlah yg vaksin konjugat (Prev**** atau Syn*****) ketimbang jenis polisakarida utk hasil yg maksimal. Mengenai pilihan 7,10,13 tidak perlu terlalu dipermasalahkan, meskipun secara teoritis, semakin besar angka tsb, semakin banyak serotipe yg ter-cover. Β Meningitis (radang selaput otak) BISA dicegah dengan vaksinasi. Yg harus dipahami, penyebab meningitis krn infeksi, banyak. Dan belum semua bakteri/virus/jamur ini tersedia vaksinnya. Vaksin yg mencegah meningitis, antara lain: BCG (meningitis Tuberkulosis paling sering di Indonesia), PCV, Hib, MMR/Campak. Vaksin bersifat spesifik, satu vaksin untuk satu bakteri/virus. Soal PCV sudah saya bahas di atas. Kendalanya adalah harganya mahal. Data di Indonesia jg belum lengkap. Namun, kita dpt merujuk pada negara tetangga yg memiliki kesamaan corak epidemiologis, termasuk iklim, geografis, dll. Di Thailand dan Singapore sudah ada penelitiannya dan PCV dinyatakan efektif. Saya ingin mengingatkan kpd kita semua, jangan selalu menelan mentah2 informasi dari CDC, termasuk rekomendasi dll. Yg harus dipahami adalah filosofi dari informasi tsb. Tentu kebanyakan informasi dari CDC sangat berguna, tapi please, jangan ditelan mentah2 krn informasi dan rekomendasi tsb dibuat hanya utk kondisi di Amerika.

Menurut Dr Tiwi, SPA, MARS di dalam parenthing class mengenai imunisasi menjelaskan bahwa bayi yang sebaiknya di vaksin PCV di usia dini yakni bayi yang memiliki orang tua/ keluarga perokok, tinggal di rumah yang ditempati oleh banyak orang/ tinggal di lingkungan padat penduduk, bayi yang dititipkan di day care/ tempat penitipan anak. Karena bayi dengan kondisi seperti tersebut lebih rentan terpapar oleh virus. Lengkapnya bisa dilihat di bawah ini

Saya juga konsultasi dengan dokter Spesialis Anak saya, beliau menyarankan untuk melengkapi imunisasi karena virus saat ini semakin resistant dan bermacam-macam. Beliau menjelaskan bahwa PCV 10 dan PCV 13 sama baiknya asalkan tidak menggunakan PCV 7 karena kurang efektif.

Supaya lebih memantapkan hati saya juga bertanya langsung melalui grup GeSaMun mengenai pemberian vaksin PCV 10 maupun PCV 13. Ada beberapa tanggapan dari pertanyaan saya tersebut yang intinya untuk kondisi di Indonesia vaksin PCV 10 sudah cukup karena di Indonesia hanya mempunyai 2 iklim. Namun jika mempunyai rencana untuk bepergian ke luar negeri serta ada dana lebih, tidak ada salahnya menggunakan PCV 13.

Informasi penting yang saya peroleh di grup tersebut, jika saat pertama kali menggunakan vaksin PCV 10 kemudian di jadwal kelanjutannya menggunakan vaksin PCV 13 tidak masalah, namun yang menjadi masalah saat pertama kali sudah menggunakan PCV 13 kemudian di jadwal vaksin selanjutnya menggunakan vaksin PCV 10 sebaiknya tidak dianjurkan karena 3 strain tambahan yang terkandung di vaksin PCV 13 saat pertama kali vaksin menjadi tidak efektif di tubuh karena tidak di booster dengan vaksin yang sama. Jadi jika dari awal sudah menggunakan PCV 13 sebaiknya jangan berganti di kemudian hari ke PCV 10.

Vaksin tambahan selanjutnya yakni vaksin rotavirus. Vaksin rotavirus ini diproduksi oleh 2 produsen yakni Rotateq dan Rotarix. Karena saya kurang tahu perbedaan kedua merk tersebut akhirnya saya menanyakan langsung di GeSaMun. Saya memperoleh jawaban yang pada dasarnya kedua merk tersebut sama efeknya. Supaya jelas saya jabarkan di tabel berikut :

Beda Rotateq Rotarix
Sumber Campuran materi inti rotavirus pada sapi dan manusia Rotavirus dari manusia
Jumlah Strain 5 antigen virus (G1,G2,G3,G4,G6) 1 antigen virus G1
Dosis pemberian 3 kali pemberian (usia 2,4,6 bulan) 2 kali pemberian (usia 2 dan 3 bulan)
Produsen Merck (MSD) GSK

Jika dilihat dari tabel tersebut jelas perbedaannya jika Rotateq memiliki strain yang lebih banyak dan dosis pemberian lebih 1 kali dibandingkan Rotarix. Detail penjelasannya disini.

Berdasarkan hasil obervasi via internet dan bertanya ke beberapa sumber hasilnya saya bersama suami memutuskan untuk memvaksin PCV 10 saat usia Kimika 2 bulan di Rumah vaksin Surabaya. Per April 2016 harga PCV 10 di Rumah Vaksin sebesar Rp. 550.000,-. Saya pilih vaksin di Rumah Vaksin karena

  1. Dokter bisa diajak sharing via Whatshapp terlebih dahulu sehingga kita sebagai orang yang awam terhadap vaksin benar-benar yakin dan paham manfaat vaksin tersebut.
  2. Keaslian vaksin terjamin karena pernah diliput langsung oleh media.
  3. Biaya vaksin relatif terjangkau karena tidak menggunakan biaya administrasi.

Saya mantepin hati buat vaksin PCV Kimika di usia dini sesuai jadwal IDAI untuk upaya pencegahan sedini mungkin daripada menyesal di kemudian hari. Awalnya sempet kepikiran gimana kalau sesudah umur Kimika setahun aja kan cuma divaksin 2 kali jadwal. Atau kalau mau lebih hemat lagi vaksin PCV di usia anak 2 tahun karena dosisnya cuma sekali. Kalau dari usia 2 bulan ada 4 kali jadwal jadi kebayang donk besarnya pengeluaran 4 kali vaksin (biasa perhitungan ibuibu hihi).

Pantesan mahal 1 kemasan buat satu kali vaksin
Jenis Strain yang terkandung dalam PCV 10
Inside the boxed PCV 10 vaccine

Untuk Vaksin Rotavirus saya tidak jadi vaksin karena umur Kimika sudah melebihi 14 minggu sehingga sudah tidak efektif lagi jika diberikan. Saya mendapat penjelasan dari dokter di Rumah vaksin untuk pencegahan rotavirus dapat dengan cara menjaga kebersihan seperti rajin mencuci tangan, menjaga kebersihan rumah, menjaga kebersihan binatang peliharaan di rumah, menjaga kebersihan makanan dan minuman termasuk saat mengolahnya.

Semoga bermanfaat ya mom dan jangan galau untuk memvaksin putra putrinya demi menjaga kesehatan buah hati di masa mendatang. Terima kasih sudah mampir πŸ™‚

Advertisements

2 thoughts on “Perlukah vaksin tambahan ? Vaksin IPD/ Pneumokokus (PCV) dan Rotavirus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s