Parenthink

Dukung kecerdasan emosi anak dengan aktivitas positif

Sabtu 05/11/2016 DBL Academy dengan Ultra Milk mengadakan Parents Gathering yang bertemakan Dukung Kecerdasan Emosi Anak dengan aktivitas positif dengan nara sumber Mba Ristriarie Kusumaningrum, M. Psi seorang psikolog. Workshop ini gratis untuk umum lho.. *mata berbinar*.

Karena saya datang agak terlambat jadi akan sedikit terpotong yaa pembahasannya..*maafkan*.

Waktu saya datang Mba Ristriarie menjelaskan faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi ada 2 yakni dari internal dan eksternal.

Dari internal faktor emosi lebih banyak berperan. Selain hormon, faktor emosi lebih berkembang jadi mempengaruhi perkembangan keputusannya. “Makanya kalo kita lihat pengambilan keputusan anak-anak terutama pada masa remaja banyak yang tidak sesuai seperti suka melanggar aturan, ceroboh, karena banyak dipengaruhi oleh faktor emosi”.

Dari eksternal ada banyak hal seperti faktor keluarga, “bagaimana cara bapak dan ibu berkomunikasi dengan anak? Bagaimana cara mendengarkan cerita semisalkan anak-anak sedang sedih, murung, BeTe ketika pulang sekolah itu juga mempengaruhi anak-anak dalam mengelola emosinya”. Dari Lingkungan mulai dari lingkungan sekolah, lingkungan rumah, mereka punya teman bermain/tidak, apakah mereka punya kesempatan untuk mengeksplorasi teman-teman di sekitarnya. Kemudian Media, anak-anak jaman sekarang disebutnya generasi milenia, jadi mereka bener-bener update dengan gadget, mereka tahu bagaimana cari tahu informasi dengan cepat, hanya klik aja ga pernah kita ajarin tiba-tiba mereka udah bisa buka youtube, bisa download game sendiri dimana mungkin isinya belum tentu cocok dengan anak-anak. Anak-anak sekarang biasa punya akun media sosial seperti Path, facebook, instagram, snapchat, twitter. Sangat mudah untuk membuat akun di media sosial ini jadi informasi yang masuk kadang-kadang tidak sesuai seperti instagram ketika masuk ada foto-foto yang kurang sesuai. Jika ini tanpa dibimbing maka informasi ini hanya masuk aja tanpa disaring maka mereka belum tahu mana sebenarnya yang boleh mereka lihat dan mana yang belum boleh.

“Emosi ini sudah ada sejak lahir, mulainya dari masa bayi. Muncul rasa percaya atau tidak dengan lingkungan dengan ayah dan ibu, jika sudah muncul rasa percaya ini maka anak akan merasa nyaman”.

Masa 1-3 tahun, tk, sd, smp di masa ini mereka mulai mencari tahu siapa sih diri saya? Seperti apa saya? Jadi bukan sekedar identitas nama, alamat, usia, sekolah namun mereka mau mencari tahu kemampuan saya sejauh mana.

Menggambar

Kemudian Mba Ristriarie menyodorkan games. Games ini dimainkan oleh 2 orang. Yang 1 bertugas untuk memberikan instruksi serta ilustrasi berdasarkan apa yang dilihat di layar. Dan yang 1 lagi bertugas untuk menggambar berdasarkan dari instruksi yang diberikan oleh temannya dan tidak boleh melihat layar. Jadi yang melihat layar hanya 1 orang saja dan yang 1 orang lagi bertugas menggambar.

Tujuan games ini untuk membentuk kecerdasan emosi dan empati pada anak. “Ternyata memberikan instruksi kepada orang lain itu tidak mudah ya, begitu juga sebaliknya ketika menggambar apa yang diilustrasikan juga tidak mudah ya. Dari situ menumbuhkan rasa empati anak kepada orang lain. Maka dari itu dari hasil penelitian, faktor yang menentukan kesuksesan seseorang 80% berasal dari EQ (Emotional quotient) sedangkan IQ (Intelligence quotient)  hanya 20%. Kesuksesan itu tidak selalu bicara tentang kecerdasan”.

Emosi sendiri terbagi menjadi 2 yakni

Reaktif :

Contoh, ketika di sekolah ada teman yang menyenggol bahu anak sehingga baju pada anak terkena tumpahan air. Jika pola anak tersebut reaktif bisa saja ia akan membalas apa yang dilakukan temannya.

Proaktif :

“Kita ingin anak-anak berfikir terlebih dahulu. Ketika anak dihadapkan oleh suatu situasi, anak diminta untuk berfikir terlebih dahulu sebelum mengambil tindakan”. Contoh, ketika di sekolah ada teman yang menyenggol bahu anak sehingga baju pada anak terkena tumpahan air. Jika pola anak tersebut proaktif, “biasanya saya mengajarkan kepada anak-anak saya, anak diminta untuk stop dan berfikir sejenak kemudian mucul pilihan atas tindakan yang akan diambil selanjutnya. Jika ingin anak-anak untuk berfikir proaktif maka anak diajak untuk menempatkan dirinya jika menjadi anak yang menyenggol tadi. Bagaimana perasaannya jika menyenggol teman hingga membuat bajunya basah mungkin dia juga merasa bersalah juga. Apakah yang menyenggol sengaja/tidak, dan meminta maaf/ tidak. Jika memang tidak sengaja dan sudah minta maaf diharapkan anak bisa berfikir untuk tidak membalas perbuatan itu dan memaafkan.

Kecerdasan Emosi ada 3 tipe :

Quitters

Semisal, dikasi tugas/ tantangan sama coachnya di lapangan basket ia diminta untuk memasukkan bola di jarak sekian namun anak tersebut merasa, “aku ga bisa deh kayaknya”.

Anak diminta gabung ke grup lain, anak itu cenderung menolak karena tidak kenal dengan teman-teman di grup tersebut dan merasa, “aku ga nyaman”.

Cirinya

Enggan mencoba, mudah putus asa, kurang percaya diri, mudah marah dan frustasi, menolak kesempatan, sering menggunakan kata yang membatasi diri seperti “tidak bisa, “tidak mau”.

Campers

Merasa sudah cukup puas dengan hasil yang diperoleh. Semisal, anak diminta untuk belajar saat mau ujian. Sebenarnya dia bisa mencapai hasil yang lebih tinggi lagi namun dia merasa cukup puas saat sudah mencapai nilai standart KKMnya, anak berada di zona nyaman.

Cirinya

Senang berada di zona nyaman, cepat puas, mudah bosan sehingga enggan mencoba kesempatan lain, sering menggunakan kata-kata “ini sudah bagus”, “sudah cukup”.

Climbers

Kita pengennya anak berada di tipe ini. Anak lebih percaya diri dan kalo dikasih tantangan juga mereka ga nolak, mereka mau coba.

Cirinya

Percaya diri, tidak mudah putus asa atau frustasi, melihat tantangan sebagai kesempatan belajar, bisa diandalkan, sering menggunakan kata “saya mau coba lagi”.

Anak-anak yang memiliki kecerdasan emosi memiliki ciri-ciri tersendiri :

√ Mereka lebih fokus pada apa yang menjadi kelebihan yang dimiliki

√ Mereka lebih empati kepada orang lain. Biasanya kalo dikasi saran dari orang lain, anak tersebut mau menerima dan tidak defensive.

√ Mereka memiliki sikap supportive dan bisa bekerja sama dengan orang lain. Misal, jika kalah saat bertanding, anak itu mau menerima kekalahannya.

√ Menjadi role model di rumah.

Menjelang akhir acara, pihak DBL Academy menampilkan salah 1 siswa nya yang bernama Erdward yang menunjukkan hasil karyanya. Edward ini mempunyai hal positif, suka menulis hal-hal di sekitarnya termasuk lingkungan di sekitar DBL Academy. Edward saat itu bercerita tentang DBL Academy dengan polosnya ia ingin terus membuatnya sampai jilid ke 54. Sontak penonton yang hadir bertepuk tangan.

I got this 😃

Sekian reportase saya untuk event DBL Academy dan Ultramilk semoga bermanfaat yaa..

Terima kasih sudah mampir 🙂

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s